Ramainya Masyarakat di Bank Indonesia Menjelang Lebaran 2


Share on Facebook
Share on LinkedIn
Bookmark this on Google Bookmarks
Share on StumbleUpon

Masyarakat memenuhi halaman di depan tangga masuk Bank IndonesiaSaat melintas di depan kantor Bank Indonesia cabang Malang, saya tertarik melihat ramainya kerumunan di sana. Saya sempatkan untuk mampir sebentar. Saya ingin melihat panel mesin antrian yang terpasang di sana sejak lebih dari 2,5 tahun yang lalu. Saya ingin mencari tahu bagaimana pengaruh penggunaan panel tersebut terhadap kenyamanan masyarakat saat mengantri di bank Indonesia. Kerumunan masyarakat agak berdesak-desakan di depan tangga menuju pintu masuk kantor BI. Saya pikir, kok bisa begitu, tidak duduk di kursi saja?

Sebagian warga duduk menunggu di halaman parkir samping Bank Indonesia

Lalu saya berjalan menaiki tangga dan mencari printer nomor antrian. Mencari tahu sudah berapa orang yang mengambil nomor antrian di situ.

Belum habis mata menyapu ruangan saya sudah ditegur satpam, “Nomor antrian berapa, pak?”

Saya bilang, “Lho.. ini saya baru mau ambil nomor antrian, printernya di mana?”

Si satpam tidak tersenyum, “Pengambilan nomor antrian sudah ditutup. Kalau mau mengambil nomor antrian mulai pukul 04.30 tadi pagi. Hari senin saja datang lagi.”

Saya kaget, “Hah?? Nomor antriannya memang sudah sampai berapa? Kan masih pagi sekali?”

Satpam tetap tidak tersenyum, “Hari ini antrian ditutup pada nomor 900 tiap harinya selama puasa ini. Biasanya semakin dekat lebaran nanti nomor antrian akan ditambah melebihi angka 1000 setiap hari.”

Pengumuman Bank Indonesia terkait masa menjelang lebaranSaya pun membatin, semua.. maksud saya, beberapa satpam BI, yang konon bergaji tinggi, di situ rupanya sangat serius mengatur masyarakat yang datang sehingga lupa untuk tersenyum.

Saya perhatikan orang-orang yang ada di sekitar situ. Banyak yang sudah memegang uang pecahan 2 ribu rupiah. Uang pecahan baru itu rupanya sekarang laku keras. Uang kertas tersebut menjelang lebaran kali ini paling banyak dicari masyarakat. Mungkin bakal dijadikan salam tempel atau angpao untuk saudara atau keponakan yang masih kecil-kecil jika mereka berlebaran di kampung halaman nanti.

Masyarakat terlihat memenuhi kantor Bank Indonesia cabang Malang. Masyarakat tidak lagi menunggu di dalam ruanga n melainkan memenuhi halaman parkir Bank Indonesia. Tenda yang tersedia di halaman samping dan belakang gedung pun dipenuhi warga yang ingin menukarkan uangnya. Display antrian besar terlihat hanya satu dan terletak di dalam ruangan membuat sebagian orang memilih berdiri di depan tangga masuk. Mereka takut nomor antrian terlewatkan.

Display besar panel antrian di Bank Indonesia Senang rasanya mengetahui perangkat mesin antrian tersebut masih digunakan secara maksimal selama hampir 3 tahun ini. Karena selama ini tidak ada komplain berarti. Menurut saya, jika tidak ada komplain berarti ada 2 kemungkinan. Pertama, panel tersebut digunakan tanpa ada masalah. Kedua, konsumen tidak peduli apakah panel tersebut berfungsi atau tidak. Di Indonesia, kecenderungan untuk poin kedua cenderung cukup besar. Hasil kunjungan saya di kantor BI menyimpulkan bahwa display nomor antrian yang besar perlu ditambah 2-3 unit dan di tempatkan di luar ruangan. Mesin antrian produksi Rekavisitama itu dirancang berbeda sehingga memungkinkan untuk penambahan beberapa display besar lagi. Kalau sudah tidak diperlukan bisa dilepas tanpa mempengaruhi sistem yang sudah ada. Kok tidak terpikir oleh orang BI ya? Hmm.. peluang neh.. kalau dibuat penawaran sekarang, apa bisa langsung disetujui? Maklum proses administrasi kadang memakan waktu cukup lama, padahal lebaran sebentar lagi.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *