Kesalnya Saat Tidak Punya Uang Receh


Share on Facebook
Share on LinkedIn
Bookmark this on Google Bookmarks
Share on StumbleUpon

DSC00276 Uang receh bisa menimbulkan masalah yang tidak bisa dianggap recehan. Mungkin masalahnya recehan tapi kalau dikumpulkan bisa jadi masalah besar.

Harga segala macam kebutuhan yang semakin meningkat tidak menyebabkan kebutuhan akan uang receh semakin berkurang. Kita sering dibuat kesal karena uang receh yang menghilang saat diperlukan. Padahal uang yang kita punya juga tidak terlalu banyak. hehehe…

Pas ingin bergerak dengan jarak yang tidak terlalu jauh, sering kita menggunakan bajaj atau ojek. Alangkah menjengkelkan jika uang Rp. 50.000.- ditangan harus berpindah tangan tanpa kembalian gara-gara si supir bajaj tidak punya uang kembalian atas tarif yang hanya Rp. 5.000,- saja. Rasanya ingin marah saat membeli koran edisi terbaru seharga 3500 rupiah harus menunggu lama sementara tukang koran mencari uang kembalian. Eh.. kalau dalam kasus seperti ini biasanya bisa diatasi sambil menunggu sembari membaca semua koran, majalah dan tabloid yang dijual tukang koran itu.

Lantas bagaimana?

Satu saat, karena begitu jengkelnya saya akan keadaan ini maka saya menemukan solusi atas berbagai keadaan yang seperti ini, yaitu:

  • Pertama kali. Tentu harus disiapkan uang receh secukupnya. Caranya, jangan pada¬† setiap transaksi recehan kita langsung keluarkan uang receh. Kadang kala kita harus mengeluarkan uang 50 ribuan atau 100 ribuan untuk transaksi di bawah 10 ribu. Itu berguna untuk menjaga agar kita selalu punya uang receh pada batas yang kita tetapkan.
  • Sebelum transaksi. Sesaat sebelum naik bajaj, tanyakan pada si supir. Sebelum koran ditangan, tanyakan juga. Jika uang anda 100 ribu apakah ada uang kembaliannya? Nah.. cara ini bakal mantap untuk diterapkan pada supir angkot yang memang berniat nakal. Kadang.. kadang lho.. berarti tidak semua, si supir memang tidak berniat untuk menyediakan uang kembalian yang cukup.
  • Delivery Order. Masalah seperti ini juga terjadi saat kita memesan makanan lewat delivery order. Kalau seperti ini pastikan kita tahu berapa total yang harus kita bayar. Selain itu kita harus katakan bahwa uang yang ada ditangan adalah bukan uang receh sehingga si pengantar makanan harus siap dengan uang kembalian.
  • Tukarkan uang di Bank Indonesia. Kalau kita sering lewat kantor BI sesekali boleh mampir kesana untuk menukarkan uang dengan nominal besar menjadi nominal kecil. Biasanya, baru pada saat menjelang lebaran biasanya BI dipenuhi orang-orang yang mengantri untuk mendapatkan uang receh. Kalau sudah begini BI sampai harus buka tenda di halaman untuk melayani nasabah. Uang receh ini yang dibagikan pada anak-anak kecil setelah mereka tiba di kampung untuk berlebaran.
  • Relakanlah. Kalau motivasi kita saat itu tulus, tidak ada salahnya kita relakan uang yang sekian puluh atau bahkan seratus ribu itu. Hati yang iklas saat memberi tentu menjadi berkat buat yang menerima dan yang memberi.

Cara-cara di atas dapat dimodifikasi sesuai keperluan. Bahkan dapat pula ditambahkan, barangkali ada yang mempunyai pengalaman lain. Karena kejadian seperti ini terjadi pada banyak situasi seperti di parkiran, di toko saat belanja permen dan lain sebagainya.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *